Saturday, September 16, 2017

Akhirnya, Peneliti Ungkap Misteri Terbesar Atlantis, Benarkah Ada di Indonesia?

Legenda Atlantis adalah salah satu mitos tertua umat manusia. Legenda ini pertama kali didengungkan oleh filsuf Yunani, Plato, pada sekitar 360 SM.

Plato menggambarkan Atlantis adalah negeri yang makmur yang menghilang tanpa jejak setelah tenggelam ke laut. Beberapa ratus tahun kemudian, banyak orang percaya bahwa Santorini, salah satu pulau di Kepulauan Cyclades di tengah Laut Aegea adalah Atlantis.
Sayang, negeri indah dengan kebudayaan Minoa itu lenyap disapu oleh tsunami yang disebabkan letusan gunung berapi. Dan sebuah studi baru menunjukkan tsunami itu kemungkinan disebabkan oleh aliran piroklastik (batuan klastik yang terbentuk dari material vulkanik) ke laut. Teori ini dianggap menantang teori sebelumnya.
Letusan di Santorini pada tahun 1500 SM menyebabkan tsunami besar yang diduga sebagai faktor yang menyebabkan berakhirnya kebudayaan Minoa.  Bukti-bukti adanya gelombang tinggi setidaknya sembilan meter telah ditemukan di beberapa situs di dekat Pulau Kreta, Yunani.

Studi sebelumnya menduga bahwa runtuhnya kawah gunung berapi (kaldera) ke laut menyebabkan tsunami. Dilansir dari Daily Mail, namun para peneliti dari National and Kapodistrian University of Athens mengajukan teori yang berbeda. Para peneliti menganalisis dasar laut di bawah kaldera, dan menemukan bukti yang menunjukkan kaldera tidak terhubung ke laut ketika itu runtuh.
Temuan terbaru menyebutkan bahwa kaldera dibanjiri oleh air laut setelah letusan terjadi. Tetapi banjir itu sendiri tidak mungkin menciptakan tsunami.
Sebaliknya, para peneliti percaya bahwa piroklastik dalam volume yang besar dari gunung berapi mengalir dalam kecepatan tinggi ke laut, sehingga cukup kuat dalam menggerakkan air untuk menciptakan tsunami.
Dalam tulisan mereka, yang diterbitkan di Nature, para peneliti yang dipimpin oleh Paraskevi Nomikou, menulis temuan menarik
” Tsunami dalam skala regional yang dikaitkan dengan letusan gunung berapi tercipta oleh genangan aliran piroklastik, yang kemungkinan ditambah dengan longsornya massa endapan piroklastik dengan cepat dari lereng gunung ke arah laut.”
Bukti lain yang mendukung teori ini adalah endapan piroklastik di Santorini memiliki ketebalan hingga 60 meter.
Dengan adanya teori terbaru ini tampaknya mematahkan pendapat beberapa pihak yang sebelumnya menyatakan bahwa Atlantis berada di Nusantara alias Indonesia.
Keyakinan tersebut muncul dari strategisnya lokasi Indonesia di perairan, serta juga kekayaan alam negeri ini yang sangat melimpah. Karena dikisahkan, sebelum menghilang Atlantis adalah benua yang kaya dengan peradaban yang sudah sangat maju.


Antara Atlantis, Gunung Padang dan Indonesia

Apa reaksi anda kalau sejarah mengatakan peradaban luhur manusia di muka Bumi dimulai dari Indonesia? berkata "Wow!"? atau "Omong kosong!"? Setidaknya ada dua hipotesa yang jadi dasar dari pertanyaan tersebut.

Atlantis terletak di Indonesia

Plato (427 – 347 SM), filsuf legendaris Yunani pernah menulis dalam bukunya Timaeus & Critias tentang sebuah peradaban sangat maju dan memiliki teknologi tinggi yang terletak di sebuah Benua bernama Atlantis. Diceritakan bahwa pada tahun 9500 SM (11.600 tahun yang lalu), Kerajaan Atlantis dengan pasukannya telah menaklukkan Eropa Barat dan Afrika. Sebelum sempat menyerang Yunani, tiba-tiba Atlantis tertimba bencana alam maha dahsyat hingga dalam satu malam, benua tersebut tenggelam ditelan lautan.

Sebagian orang menganggap cerita tersebut hanya Mitos sebagaimana cerita tentang dewa-dewa Yunani lainnya. Tapi beberapa Ilmuwan meyakini bahwa beberapa sejarah otentik, berawal dari legenda turun temurun. Apalagi bila ditelusuri 'track record'tulisan-tulisan Plato yang selalu menulis berdasar kenyataan.

Sejauh ini, letak bekas Benua Atlantis diyakini berada di Samudra Atlantik. Berdasarkan kondisi geografis dan kesejarahan, ada juga yang yakin Atlantis berada di Laut Tengah.

Adalah Prof. Arysio Santos, setelah mempelajari legenda Atlantis selama 30 tahun, mendobrak keyakinan mainstream para ilmuwan dengan menyatakan Benua Atlantis terletak di Indonesia. Jelas bukan tanpa dasar, pertama adalah ditemukannya kerangka Phitecantropus erectus, yang juga dinamai Manusia Jawa,  manusia purba ini pertama kalinya memang di temukan di Trinil, Kab. Ngawi Jawa Timur. Penemuan ini adalah penemuan manusia purba pertama.

Disusul penemuan manusia spesies Hobbit (manusia kerdil) di Flores. Dengan ditemukannya manusia purba di Indonesia, menguatkan dugaan Indonesia adalah asal peradaban.

Plato






















Kondisi geografi yang digambarkan Plato tentang Atlantis dengan keadaan Indonesia juga mirip, Indonesia dijuluki 'Ring of Fire', Cincin api, karena memiliki banyak gunung api aktif yang mengelilingi Nusantara, mirip dengan deskripsi Plato. Bencana alam yang menenggelamkan Atlantis salah satunya disebabkan meletusnya seluruh gunung api yang mengelilinginya.

Di Bukunya, Plato juga bercerita tentang tumbuhan dan pertanian Atlantis. Atlantis ditumbuhi pohon kelapa dan nanas, memiliki teknik bertani undakan (terasering) dan irigasi, memiliki 2 musim, hujan dan kemarau, memiliki dupa dan wewangian dan beberapa kemiripan lainnya. Semua deskripsi tersebut mengarahkan pada kondisi geografis dan ciri-ciri kebudayaan awal Nusantara.

Dengan semua kemiripan itu, Prof. Santos memiliki modal kuat untuk mempertahankan hipotesanya. Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa para ilmuan yang telah membaca naskah Plato tidak sampai pada kesimpulan yang sama dengan menyatakan bahwa Atlantis berada di daerah tropis? Tapi mengarahkan  perkiraan lokasi Atlantis di daerah non tropis. Apakah karena mereka salah memahami naskah atau karena rasa Superioritas mereka yang 'tidak rela' kalau peradaban kuno bukan dari daerah mereka. Atau mungkin malah Prof. Santos yang mencari populeritas dengan sengaja keluar dari arus utama untuk mendapatkan ketenaran. 

Gunung Padang, Jawa Barat


















Semua keraguan tersebut akan terjawab bila para ilmuwan telah mendapatkan 'mata rantai yang hilang'. Seluruh bukti geologis, geografis dan kemiripan budaya tidak akan lengkap tanpa ditemukannya bukti historis, yaitu bukti artefak, yang sampai sekarang memang belum ada yang berhasil menemukannya.

Mata rantai yang hilang tersebut sepertinya akan segera menyatu dengan ditemukannya situs Megalitikum Gunung Padang. Situs yang dianggap sebagai salah satu yang terbesar di Asia tersebut kini sedang dipelajari oleh para ahli Indonesia dari multi-bidang. Situs Gunung Padang mengarahkan dugaan bahwa Indonesia memang pernah menjadi sumber peradaban luhur di muka bumi.

INDONESIA TERNYATA BENUA ATLANTIS YANG HILANG

MAJAPAHIT 1478. Indonesia ternyata adalah merupakan benua Atlantis yang hilang sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Plato dalam bukunya Timaeus dan Critias. Fakta mengejutkan ini diungkapkan oleh Prof. Arysio Nunes dos Santos dalam bukunya "Atlantis, The Lost Continent Finally Found".


Prakata.
Atlantis, Atalantis, atau Atlantika (bahasa Yunani: τλαντς νσος, "pulau Atlas") adalah merupakan sebuah pulau atau bahkan sebuah benua legendaris yang pertama kali disebutkan oleh Plato dalam bukunya Timaeus dan Critias.

Dalam catatannya tersebut, Plato menuliskan bahwa Atlantis ini terhampar "di seberang pilar-pilar Herkules", dan memiliki angkatan laut yang telah menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis kemudian tenggelam ke dalam samudra "hanya dalam waktu satu hari satu malam".

Telah diklaim bahwa sebelum era Eratosthenes tahun 250 SM, penulis Yunani menyatakan bahwa lokasi "pilar-pilar Herkules" berada di Selat Sisilia, namun tidak terdapat bukti-bukti yang cukup untuk membuktikan hal tersebut.

Atlantis umumnya dianggap hanya sebagai mitos yang dibuat oleh Plato untuk mengilustrasikan teori politiknya. Meskipun fungsi cerita Atlantis terlihat jelas oleh kebanyakan ahli, mereka memperdebatkan apakah dan seberapa banyak catatan Plato diilhami oleh tradisi yang lebih tua. Beberapa ahli mengatakan bahwa Plato menggambarkan kejadian yang telah berlalu, seperti letusan Thera atau perang Troya, sementara lainnya menyatakan bahwa ia terinspirasi dari peristiwa kontemporer seperti hancurnya Helike tahun 373 SM atau gagalnya invasi Athena ke Sisilia tahun 415-413 SM.

Masyarakat sering membicarakan keberadaan Atlantis selama Era Klasik, namun umumnya tidak mempercayainya dan kadang-kadang menjadikannya sebagai bahan lelucon. Kisah Atlantis kurang dikenal pada Abad Pertengahan, namun pada era modern cerita mengenai Atlantis ditemukan kembali. Deskripsi Plato menginspirasikan karya-karya penulis zaman Renaissance, seperti "New Atlantis" karya Francis Bacon. Atlantis juga mempengaruhi literatur modern, dari fiksi ilmiah hingga buku komik dan film. Namanya telah menjadi pameo untuk semua peradaban prasejarah yang telah maju (dan kemudian menghilang).

Pada buku Timaeus, Plato berkisah:
"Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam".
Menurut Critias, dewa Helenik membagi wilayah untuk setiap dewa; Poseidon mewarisi wilayah pulau Atlantis. Pulau ini lebih besar daripada Libya kuno dan Asia Kecil yang disatukan, tetapi akan tenggelam karena gempa bumi dan menjadi sejumlah lumpur yang tak dapat dilewati, menghalangi perjalanan menyeberang samudra. Bangsa Mesir pernah mendeskripsikan Atlantis ini sebagai pulau yang terletak kira-kira 700 kilometer, kebanyakan terdiri dari pegunungan di wilayah Utara dan sepanjang pantai, dan melingkupi padang rumput berbentuk bujur di Selatan "terbentang dalam satu arah tiga ribu stadia (sekitar 600 km), tetapi di tengah sekitar dua ribu stadia (400 km).

Selain Timaeus dan Critias, tidak terdapat catatan kuno mengenai Atlantis, yang berarti setiap catatan mengenai Atlantis lainnya berdasarkan dari catatan Plato.

Sejarawan dan filsuf kuno lainnya yang memercayai keberadaan Atlantis adalah Strabo dan Posidonius. Zoticus, seorang filsuf Neoplatonis pada abad ke-3, menulis puisi berdasarkan catatan Plato mengenai Atlantis. Novel Francis Bacon tahun 1627, The New Atlantis (Atlantis Baru), mendeskripsikan komunitas utopia yang disebut Bensalem, terletak di pantai barat Amerika. Karakter dalam novel ini memberikan sejarah Atlantis yang mirip dengan catatan Plato. Tidak jelas apakah Bacon menyebut Amerika Utara atau Amerika Selatan. Novel Isaac Newton tahun 1728, The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended (Kronologi Kerajaan Kuno Berkembang), mempelajari berbagai hubungan mitologi dengan Atlantis. 

Pada pertengahan dan akhir abad ke-19, beberapa sarjana Mesoamerika, dimulai dari Charles Etienne Brasseur de Bourbourg, dan termasuk Edward Herbert Thompson dan Augustus Le Plongeon, menyatakan bahwa Atlantis berhubungan dengan peradaban Maya dan Aztek.

Pada tahun 1882, Ignatius L. Donnelly mempublikasikan Atlantis: the Antediluvian World. Karyanya menarik minat banyak orang terhadap Atlantis. Donnelly mengambil catatan Plato mengenai Atlantis dengan serius dan menyatakan bahwa semua peradaban kuno yang diketahui berasal dari tingginya kebudayaan Neolitik.

Konsep Profesor Arysio Nunes dos Santos

Adalah Profesor Arysio Santos yang menyimpulkan bahwa setelah melakukan penelitian selama 30 tahun terakhir, dirinya meyakini benua Atlantis yang hilang tersebut adalah Indonesia. “Profesor Santos memperoleh keyakinan setelah melakukan penelitian kalau Indonesia adalah Atlantis yang hilang,” jelas Jimly Asshiddiqie (Dikutip Koran Sindo).

Menurut Jimly, karya Santos yang kemudian dibukukan dengan judul "Atlantis, The Lost Continent Finally Found" didukung dengan sejumlah fakta yang memang mendekatkan Indonesia dengan Atlantis. Bahkan, kata Jimly, pernyataan arkeolog, manusia tertua adalah Pithecanthropus Erectus semakin mengindikasikan hal tersebut.

“Ada info dari arkeolog, manusia tertua yakni Pithecanthropus Erectus ya manusia Jawa. Jadi sangat mungkin peradaban hebat itu sebenarnya dari Indonesia,” terang mantan anggota Wantimpres ini. Jimly menambahkan, kalau memang memungkinkan, sebuah peradaban yang besar kemudian menghilang. Meski sempat hilang dari sejarah bangsa Indonesia dan umat dunia, Jimly menyarankan agar penelitian Santos ini dapat memotivasi bangsa Indonesia agar bangkit dari situasi sekarang ini.

“Paling penting adalah bahwa kita pernah hebat, ini (buku karya Santos) sebagai sumber motivasi ke depan agar bisa maju,” tandas Jimly.

Sementara itu, Direktur LIPI Profesor Dr Umar Anggara mengatakan agar temuan Santos ini dijadikan motivasi para ilmuwan Indonesia untuk membuktikan kebenarannya secara akademis.
“Saya harap buku ini bisa menginspirasi bagi para ilmuwan untuk mencari kebenaran secara akademik. Karena menyinggung Indonesia dan sudah sepatutnya kita yang mencari tahu,” imbuh Umar. 

Kehancuran Atlantis

Benua Atlantis hilang di karenakan tenggelam oleh lautan dan bencana gempa bumi, hingga mengakibatkan daratan Atlantis tenggelam hingga mencapai dasar laut. Terlihat jelas bahwa ada bangunan-bangunan tua yang sudah ada sejak berabad-abad di dasar laut di Selat Sunda.

Keberadaan Kota Atlantis yang diperkirakan tenggelam 11.600 tahun lalu masih menjadi misteri. Namun, ada satu dokumen yang menyebut Indonesia merupakan wilayah Atlantis yang sebenarnya. Benarkah ?.

Santos meyakini benua menghilang akibat letusan beberapa gunung berapi yang terjadi bersamaan pada akhir zaman es sekitar 11.600 tahun lalu. Di antara gunung besar yang meletus zaman itu adalah Gunung Krakatau Purba (induk Gunung Krakatau yang meletus pada 1883) yang konon letusannya sanggup menggelapkan seluruh dunia. Letusan gunung berapi yang terjadi bersamaan ini menimbulkan gempa, pencairan es, banjir, serta gelombang tsunami sangat besar. 

Saat gunung berapi itu meletus, ledakannya membuka Selat Sunda. Peristiwa itu juga mengakibatkan tenggelamnya sebagian permukaan bumi yang kemudian disebut Atlantis. Bencana mahadahsyat ini juga mengakibatkan punahnya hampir 70 persen spesies mamalia yang hidup pada masa itu, termasuk manusia. Mereka yang selamat kemudian berpencar ke berbagai penjuru dunia dengan membawa serta mempraktekkan peradaban mereka di wilayah baru. 

“Kemungkinan besar dua atau tiga spesies manusia seperti ‘hobbit’ yang baru-baru ini ditemukan di Pulau Flores musnah dalam waktu yang hampir sama,” tulis Santos. Sebelum terjadinya bencana banjir itu, beberapa wilayah Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara diyakini masih menyatu dengan semenanjung Malaysia serta Benua Asia.

Menurut Santos, pulau-pulau di Indonesia yang mencapai ribuan itu merupakan puncak-puncak gunung dan dataran-dataran tinggi benua Atlantis yang dulu tenggelam. Satu hal yang ditekankan Santos adalah banyak peneliti selama ini terkecoh dengan nama Atlantis. Mereka melihat kedekatan nama Atlantis dengan Samudera Atlantik yang terletak di antara Eropa, Amerika dan Afrika. Padahal pada masa kuno hingga era Christoper Columbus atau sebelum ditemukannya Benua Amerika, Samudera Atlantik yang dimaksud adalah terusan Samudra Pasifik dan Hindia.

Sekali lagi Indonesia memiliki syarat untuk itu karena Indonesia berada di antara dua samudera tersebut. Jika terdapat begitu banyak kemungkinan Indonesia menjadi lokasi sesungguhnya Atlantis lalu, mengapa selama ini nama Indonesia jarang disebut-sebut dalam referensi Atlantis ?.

Santos menilai keengganan Dunia Barat melakukan ekspedisi ataupun mengakui Indonesia sebagai wilayah Atlantis adalah karena hal itu akan mengubah catatan sejarah tentang siapa penemu peradaban. Dengan adanya sejumlah bukti mengenai keberadaan Atlantis di Indonesia maka teori yang mengatakan dunia Barat sebagai penemu dan pusat peradaban dunia akan hancur total.

“Kenyataan Atlantis (berada di Indonesia) kemungkinan besar akan mengakibatkan perlunya revisi besar-besaran dalam ilmu humaniora, seperti antropologi, sejarah, linguistik, arkelogi, teori evolusi, paleantropologi dan bahkan mungkin agama,” tulis Santos dalam bukunya. 


Peta Atlantis yang hilang menurut Prof Arysio Nunes dos Santos

Selain Santos, banyak arkeolog Amerika Serikat yang juga meyakini Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land yang luasnya dua kali negara India. Daratan itu kini tinggal Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Salah satu pulau di Indonesia yang kemungkinan bisa menjadi contoh terbaik dari keberadaan sisa-sisa Atlantis adalah Pulau Natuna, Riau.

Berdasarkan penelitian, gen yang dimiliki penduduk asli Natuna mirip dengan bangsa Austronesia tertua. Rumpun bangsa Austronesia yang menjadi cikal bakal bangsa-bangsa Asia merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah keberadaan manusia. 

Rumpun ini kini tersebar dari Madagaskar di bagian Barat hingga Pulau Paskah di di bagian Timur. Rumpun bangsa ini juga melahirkan 1.200 bahasa yang kini tersebar di berbagai belahan bumi dan dipakai lebih dari 300 juta orang. 

Yang menarik adalah, sekitar 80 persen dari rumpun penutur bahasa Austronesia tinggal di Kepulauan Nusantara Indonesia. Namun, pendapat Santos dan kawan-kawan yang meyakini bahwa Atlantis berada di Indonesia ini masih harus dikaji karena kurang dilengkapi bukti-bukti arkeologis.

Pakar Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Wahyu Hantoro mengatakan analisa Santos masih berupa sebuah hipotesa. 


"Perlu dijelaskan lebih lanjut kategorisasi jenis kebudayaan tinggi yang ada pada zaman Atlantis serta gelombang setinggi apa yang bisa membuat Paparan Sunda terbelah," jelas Wahyu. 



Salah seorang peneliti bekas Kota Atlantis di Indonesia, Dhani Irwanto, 53 tahun, mengumpulkan sedikitnya 60 bukti tentang kota legenda itu di Laut Jawa. Kajiannya yang telah dibukukan itu dibuat berdasarkan petunjuk tulisan Plato, filsuf Yunani, yang juga mencatat keberadaan Atlantis secara rinci pada 360 tahun sebelum Masehi. Bukti tersebut, antara lain, ditemukan di Pulau Bawean yang, dinilai Dhani, merupakan purwarupa Atlantis.

Bukti yang pertama ditelusuri, kata Dhani, yakni dataran dan saluran. Luas dataran Atlantis pada 11.600 tahun lebih silam itu adalah 555 x 375 kilometer persegi. Berbentuk seperti selongsong peluru, ada pegunungan di bagian utara Atlantis serta laut di bagian selatan. “Lokasinya yang cocok dengan kondisi sekarang itu di wilayah Kalimantan Tengah,” ujarnya saat berdiskusi tentang misteri kuno di Lawang Wangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa, 2 Desember 2015.

Atlantis disebutkan Plato punya empat saluran air utama yang mengelilingi dataran. Kemudian ada saluran terusan untuk transportasi sehingga antarsungai terhubung serta saluran irigasi pasang-surut. “Pulau Bawean dekat dengan lokasi hipotesis saya. Jarak antara lokasi dan Pulau Bawean adalah 150 kilometer. Di Pulau Bawean juga ditemukan batu merah, hitam, dan putih, seperti cerita Plato,” kata insinyur teknik sipil Universitas Gadjah Mada lulusan 1987 itu.

Kecocokan lain dari gambaran Plato di antaranya Atlantis punya dua musim dan cenderung hangat setiap tahun, tumbuhan, makanan, dan budaya. Atlantis, kata Dhani, tenggelam 11.600 tahun lampau. Lokasi dugaannya kini di sebelah timur laut Pulau Bawean dan tertutup terumbu karang sedalam 50 meter. “Tenggelam karena gempa dan tsunami serta terjadinya kenaikan permukaan air laut,” ujarnya.

Teori baru soal keberadaan Atlantis di Laut Jawa itu, kata Dhani, setelah ia membaca buku Arysio Santos tentang Atlantis yang berada di Indonesia. Ia sendiri mengaku belum membuktikan langsung keberadaan langsung Atlantis di bawah Laut Jawa itu karena kondisi lautnya yang cukup ganas. Jika benar Atlantis ada di sekitar Pulau Bawean, kata Dhani, temuan tersebut menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia merupakan negara yang besar dan maju.