MAJAPAHIT 1478. Indonesia ternyata adalah merupakan benua Atlantis
yang hilang sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Plato dalam bukunya
Timaeus dan Critias. Fakta mengejutkan ini diungkapkan oleh Prof. Arysio Nunes
dos Santos dalam bukunya "Atlantis, The Lost Continent Finally Found".
Prakata.
Atlantis, Atalantis, atau Atlantika (bahasa
Yunani: Ἀτλαντὶς νῆσος, "pulau Atlas") adalah merupakan
sebuah pulau atau bahkan sebuah benua legendaris yang pertama kali disebutkan
oleh Plato dalam bukunya Timaeus dan Critias.
Dalam catatannya tersebut, Plato menuliskan
bahwa Atlantis ini terhampar "di seberang pilar-pilar Herkules", dan
memiliki angkatan laut yang telah menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9.000
tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang
Yunani, Atlantis kemudian tenggelam ke dalam samudra "hanya dalam waktu
satu hari satu malam".
Telah diklaim bahwa sebelum era Eratosthenes
tahun 250 SM, penulis Yunani menyatakan bahwa lokasi "pilar-pilar
Herkules" berada di Selat Sisilia, namun tidak terdapat bukti-bukti yang
cukup untuk membuktikan hal tersebut.
Atlantis umumnya dianggap hanya sebagai mitos
yang dibuat oleh Plato untuk mengilustrasikan teori politiknya. Meskipun fungsi
cerita Atlantis terlihat jelas oleh kebanyakan ahli, mereka memperdebatkan
apakah dan seberapa banyak catatan Plato diilhami oleh tradisi yang lebih tua.
Beberapa ahli mengatakan bahwa Plato menggambarkan kejadian yang telah berlalu,
seperti letusan Thera atau perang Troya, sementara lainnya menyatakan bahwa ia
terinspirasi dari peristiwa kontemporer seperti hancurnya Helike tahun 373 SM
atau gagalnya invasi Athena ke Sisilia tahun 415-413 SM.
Masyarakat sering membicarakan keberadaan
Atlantis selama Era Klasik, namun umumnya tidak mempercayainya dan
kadang-kadang menjadikannya sebagai bahan lelucon. Kisah Atlantis kurang
dikenal pada Abad Pertengahan, namun pada era modern cerita mengenai Atlantis
ditemukan kembali. Deskripsi Plato menginspirasikan karya-karya penulis zaman
Renaissance, seperti "New Atlantis" karya Francis Bacon. Atlantis
juga mempengaruhi literatur modern, dari fiksi ilmiah hingga buku komik dan
film. Namanya telah menjadi pameo untuk semua peradaban prasejarah yang telah
maju (dan kemudian menghilang).
Pada buku Timaeus, Plato
berkisah:
"Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada
sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya,
di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut
samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan
melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis
tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam,
tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban
tinggi, lenyap dalam semalam".
Menurut Critias, dewa Helenik
membagi wilayah untuk setiap dewa; Poseidon mewarisi wilayah pulau Atlantis.
Pulau ini lebih besar daripada Libya kuno dan Asia Kecil yang disatukan, tetapi
akan tenggelam karena gempa bumi dan menjadi sejumlah lumpur yang tak dapat
dilewati, menghalangi perjalanan menyeberang samudra. Bangsa Mesir pernah
mendeskripsikan Atlantis ini sebagai pulau yang terletak kira-kira 700
kilometer, kebanyakan terdiri dari pegunungan di wilayah Utara dan sepanjang
pantai, dan melingkupi padang rumput berbentuk bujur di Selatan
"terbentang dalam satu arah tiga ribu stadia (sekitar 600 km), tetapi di
tengah sekitar dua ribu stadia (400 km).
Selain Timaeus dan Critias, tidak terdapat
catatan kuno mengenai Atlantis, yang berarti setiap catatan mengenai Atlantis
lainnya berdasarkan dari catatan Plato.
Sejarawan dan filsuf kuno lainnya yang
memercayai keberadaan Atlantis adalah Strabo dan Posidonius. Zoticus, seorang
filsuf Neoplatonis pada abad ke-3, menulis puisi berdasarkan catatan Plato
mengenai Atlantis. Novel Francis Bacon tahun 1627, The New Atlantis (Atlantis
Baru), mendeskripsikan komunitas utopia yang disebut Bensalem, terletak di
pantai barat Amerika. Karakter dalam novel ini memberikan sejarah Atlantis yang
mirip dengan catatan Plato. Tidak jelas apakah Bacon menyebut Amerika Utara
atau Amerika Selatan. Novel Isaac Newton tahun 1728, The Chronology of the
Ancient Kingdoms Amended (Kronologi Kerajaan Kuno Berkembang), mempelajari
berbagai hubungan mitologi dengan Atlantis.
Pada pertengahan dan akhir abad ke-19,
beberapa sarjana Mesoamerika, dimulai dari Charles Etienne Brasseur de
Bourbourg, dan termasuk Edward Herbert Thompson dan Augustus Le Plongeon,
menyatakan bahwa Atlantis berhubungan dengan peradaban Maya dan Aztek.
Pada tahun 1882, Ignatius L. Donnelly
mempublikasikan Atlantis: the Antediluvian World. Karyanya menarik minat banyak
orang terhadap Atlantis. Donnelly mengambil catatan Plato mengenai Atlantis
dengan serius dan menyatakan bahwa semua peradaban kuno yang diketahui berasal
dari tingginya kebudayaan Neolitik.
Konsep Profesor Arysio Nunes dos Santos
Adalah Profesor Arysio Santos yang
menyimpulkan bahwa setelah melakukan penelitian selama 30 tahun terakhir,
dirinya meyakini benua Atlantis yang hilang tersebut adalah Indonesia. “Profesor
Santos memperoleh keyakinan setelah melakukan penelitian kalau Indonesia adalah
Atlantis yang hilang,” jelas Jimly Asshiddiqie (Dikutip Koran Sindo).
Menurut Jimly, karya Santos yang kemudian
dibukukan dengan judul "Atlantis, The Lost Continent Finally Found"
didukung dengan sejumlah fakta yang memang mendekatkan Indonesia dengan
Atlantis. Bahkan, kata Jimly, pernyataan arkeolog, manusia tertua adalah
Pithecanthropus Erectus semakin mengindikasikan hal tersebut.
“Ada info dari arkeolog, manusia tertua yakni
Pithecanthropus Erectus ya manusia Jawa. Jadi sangat mungkin peradaban hebat
itu sebenarnya dari Indonesia,” terang mantan anggota Wantimpres ini. Jimly
menambahkan, kalau memang memungkinkan, sebuah peradaban yang besar kemudian
menghilang. Meski sempat hilang dari sejarah bangsa Indonesia dan umat dunia,
Jimly menyarankan agar penelitian Santos ini dapat memotivasi bangsa Indonesia
agar bangkit dari situasi sekarang ini.
“Paling penting adalah bahwa kita pernah
hebat, ini (buku karya Santos) sebagai sumber motivasi ke depan agar bisa
maju,” tandas Jimly.
Sementara itu, Direktur LIPI Profesor Dr Umar
Anggara mengatakan agar temuan Santos ini dijadikan motivasi para ilmuwan
Indonesia untuk membuktikan kebenarannya secara akademis.
“Saya harap buku ini bisa menginspirasi bagi
para ilmuwan untuk mencari kebenaran secara akademik. Karena menyinggung
Indonesia dan sudah sepatutnya kita yang mencari tahu,” imbuh Umar.
Kehancuran Atlantis
Benua Atlantis hilang di karenakan tenggelam
oleh lautan dan bencana gempa bumi, hingga mengakibatkan daratan Atlantis
tenggelam hingga mencapai dasar laut. Terlihat jelas bahwa ada
bangunan-bangunan tua yang sudah ada sejak berabad-abad di dasar laut di Selat
Sunda.
Keberadaan Kota Atlantis yang diperkirakan
tenggelam 11.600 tahun lalu masih menjadi misteri. Namun, ada satu dokumen yang
menyebut Indonesia merupakan wilayah Atlantis yang sebenarnya. Benarkah ?.
Santos meyakini benua menghilang akibat
letusan beberapa gunung berapi yang terjadi bersamaan pada akhir zaman es
sekitar 11.600 tahun lalu. Di antara gunung besar yang meletus zaman itu adalah
Gunung Krakatau Purba (induk Gunung Krakatau yang meletus pada 1883) yang konon
letusannya sanggup menggelapkan seluruh dunia. Letusan gunung berapi yang
terjadi bersamaan ini menimbulkan gempa, pencairan es, banjir, serta gelombang
tsunami sangat besar.
Saat gunung berapi itu meletus, ledakannya
membuka Selat Sunda. Peristiwa itu juga mengakibatkan tenggelamnya sebagian
permukaan bumi yang kemudian disebut Atlantis. Bencana mahadahsyat ini juga
mengakibatkan punahnya hampir 70 persen spesies mamalia yang hidup pada masa
itu, termasuk manusia. Mereka yang selamat kemudian berpencar ke berbagai
penjuru dunia dengan membawa serta mempraktekkan peradaban mereka di wilayah
baru.
“Kemungkinan besar dua atau tiga spesies
manusia seperti ‘hobbit’ yang baru-baru ini ditemukan di Pulau Flores musnah
dalam waktu yang hampir sama,” tulis Santos. Sebelum terjadinya bencana banjir
itu, beberapa wilayah Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Nusa
Tenggara diyakini masih menyatu dengan semenanjung Malaysia serta Benua Asia.
Menurut Santos, pulau-pulau di Indonesia yang
mencapai ribuan itu merupakan puncak-puncak gunung dan dataran-dataran tinggi
benua Atlantis yang dulu tenggelam. Satu hal yang ditekankan Santos adalah
banyak peneliti selama ini terkecoh dengan nama Atlantis. Mereka melihat
kedekatan nama Atlantis dengan Samudera Atlantik yang terletak di antara Eropa,
Amerika dan Afrika. Padahal pada masa kuno hingga era Christoper Columbus atau
sebelum ditemukannya Benua Amerika, Samudera Atlantik yang dimaksud adalah
terusan Samudra Pasifik dan Hindia.
Sekali lagi Indonesia memiliki syarat untuk
itu karena Indonesia berada di antara dua samudera tersebut. Jika terdapat
begitu banyak kemungkinan Indonesia menjadi lokasi sesungguhnya Atlantis lalu,
mengapa selama ini nama Indonesia jarang disebut-sebut dalam referensi Atlantis
?.
Santos menilai keengganan Dunia Barat
melakukan ekspedisi ataupun mengakui Indonesia sebagai wilayah
Atlantis adalah karena hal itu akan mengubah catatan sejarah
tentang siapa penemu peradaban. Dengan adanya sejumlah bukti mengenai
keberadaan Atlantis di Indonesia maka teori yang mengatakan dunia Barat sebagai
penemu dan pusat peradaban dunia akan hancur total.
“Kenyataan Atlantis (berada di Indonesia)
kemungkinan besar akan mengakibatkan perlunya revisi besar-besaran dalam ilmu
humaniora, seperti antropologi, sejarah, linguistik, arkelogi, teori evolusi,
paleantropologi dan bahkan mungkin agama,” tulis Santos dalam bukunya.
Peta Atlantis yang hilang menurut Prof Arysio
Nunes dos Santos
Selain Santos, banyak arkeolog Amerika Serikat
yang juga meyakini Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land yang
luasnya dua kali negara India. Daratan itu kini tinggal Sumatra, Jawa dan
Kalimantan. Salah satu pulau di Indonesia yang kemungkinan bisa menjadi contoh
terbaik dari keberadaan sisa-sisa Atlantis adalah Pulau Natuna, Riau.
Berdasarkan penelitian, gen yang
dimiliki penduduk asli Natuna mirip dengan bangsa Austronesia tertua.
Rumpun bangsa Austronesia yang menjadi cikal bakal bangsa-bangsa Asia merupakan
sebuah fenomena besar dalam sejarah keberadaan manusia.
Rumpun ini kini tersebar dari Madagaskar di
bagian Barat hingga Pulau Paskah di di bagian Timur. Rumpun bangsa ini juga
melahirkan 1.200 bahasa yang kini tersebar di berbagai belahan bumi dan dipakai
lebih dari 300 juta orang.
Yang menarik adalah, sekitar 80 persen
dari rumpun penutur bahasa Austronesia tinggal di Kepulauan Nusantara Indonesia.
Namun, pendapat Santos dan kawan-kawan yang meyakini bahwa Atlantis berada di
Indonesia ini masih harus dikaji karena kurang dilengkapi bukti-bukti
arkeologis.
Pakar Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) Prof. Wahyu Hantoro mengatakan analisa Santos masih berupa
sebuah hipotesa.
"Perlu dijelaskan lebih lanjut
kategorisasi jenis kebudayaan tinggi yang ada pada zaman Atlantis serta
gelombang setinggi apa yang bisa membuat Paparan Sunda terbelah," jelas
Wahyu.
 |
|
Salah seorang peneliti bekas Kota Atlantis di Indonesia, Dhani Irwanto, 53 tahun, mengumpulkan sedikitnya 60 bukti tentang kota legenda itu di Laut Jawa. Kajiannya yang telah dibukukan itu dibuat berdasarkan petunjuk tulisan Plato, filsuf Yunani, yang juga mencatat keberadaan Atlantis secara rinci pada 360 tahun sebelum Masehi. Bukti tersebut, antara lain, ditemukan di Pulau Bawean yang, dinilai Dhani, merupakan purwarupa Atlantis.
Bukti yang pertama ditelusuri, kata Dhani, yakni dataran dan saluran. Luas dataran Atlantis pada 11.600 tahun lebih silam itu adalah 555 x 375 kilometer persegi. Berbentuk seperti selongsong peluru, ada pegunungan di bagian utara Atlantis serta laut di bagian selatan. “Lokasinya yang cocok dengan kondisi sekarang itu di wilayah Kalimantan Tengah,” ujarnya saat berdiskusi tentang misteri kuno di Lawang Wangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa, 2 Desember 2015.
Atlantis disebutkan Plato punya empat saluran air utama yang mengelilingi dataran. Kemudian ada saluran terusan untuk transportasi sehingga antarsungai terhubung serta saluran irigasi pasang-surut. “Pulau Bawean dekat dengan lokasi hipotesis saya. Jarak antara lokasi dan Pulau Bawean adalah 150 kilometer. Di Pulau Bawean juga ditemukan batu merah, hitam, dan putih, seperti cerita Plato,” kata insinyur teknik sipil Universitas Gadjah Mada lulusan 1987 itu.
Kecocokan lain dari gambaran Plato di antaranya Atlantis punya dua musim dan cenderung hangat setiap tahun, tumbuhan, makanan, dan budaya. Atlantis, kata Dhani, tenggelam 11.600 tahun lampau. Lokasi dugaannya kini di sebelah timur laut Pulau Bawean dan tertutup terumbu karang sedalam 50 meter. “Tenggelam karena gempa dan tsunami serta terjadinya kenaikan permukaan air laut,” ujarnya.
Teori baru soal keberadaan Atlantis di Laut Jawa itu, kata Dhani, setelah ia membaca buku Arysio Santos tentang Atlantis yang berada di Indonesia. Ia sendiri mengaku belum membuktikan langsung keberadaan langsung Atlantis di bawah Laut Jawa itu karena kondisi lautnya yang cukup ganas. Jika benar Atlantis ada di sekitar Pulau Bawean, kata Dhani, temuan tersebut menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia merupakan negara yang besar dan maju.